{"id":7224,"date":"2026-02-05T16:05:11","date_gmt":"2026-02-05T09:05:11","guid":{"rendered":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/?p=7224"},"modified":"2026-02-09T16:09:20","modified_gmt":"2026-02-09T09:09:20","slug":"merayakan-100-tahun-saparinah-sadli-feminist-political-ecology-sebagai-ruang-kolaborasi-di-masa-krisis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/2026\/02\/05\/merayakan-100-tahun-saparinah-sadli-feminist-political-ecology-sebagai-ruang-kolaborasi-di-masa-krisis\/","title":{"rendered":"Merayakan 100 Tahun Saparinah Sadli: Feminist Political Ecology sebagai Ruang Kolaborasi di Masa Krisis"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, 4 Februari 2025 \u2013 Program Studi Kajian Gender (KG) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Saparinah Sadli\u00a0 <em>Distinguished Lecture<\/em> secara <em>hybrid <\/em>di Gedung IASTH Lantai 5 Kampus UI Salemba dan melalui zoom webinar. Prof. Rebecca Elmhirst, Guru Besar Geografi Manusia dari Universitas Brighton, Inggris menjadi pemateri pada kuliah ini dengan topik \u201c<em>Feminist Political Ecology as A Convening Space in Challenging Times<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dihadiri oleh 360 peserta dengan 230 hadir secara luring dan 130 secara daring, Saparinah Sadli <em>Distinguished Lecture<\/em> diselenggarakan untuk merayakan 100 Tahun Prof. Saparinah Sadli, Pendiri Kajian Gender SPPB UI dan Komnas Perempuan. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap warisan intelektual dan kontribusi Beliau pada gerakan sosial, kegiatan ini juga merupakan rangkaian menuju peringatan 36 tahun berdirinya Program Studi Kajian Gender SPPB UI.<\/p>\n\n\n\n<p>Mia Siscawati, PhD., Ketua Program Studi Kajian Gender SPPB UI, membuka acara dengan menyampaikan apresiasi atas partisipasi ratusan peserta sekaligus menegaskan bahwa Prodi Kajian Gender SPPB UI telah lama memberikan perhatian pada pentingnya isu sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penghidupan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Sambutan juga disampaikan oleh Prof. Saparinah Sadli yang hadir secara daring. Beliau mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini sebagai upaya menjaga keberlanjutan diskursus gender di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, Dr. Fuad Gani, S.S., M.A. Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan SPPB UI, menekankan bahwa kuliah ini tidak hanya menjadi penghargaan personal, tetapi juga pengakuan atas warisan intelektual dan gerakan sosial yang telah dibangun Prof. Saparinah Sadli selama puluhan tahun. Berkat kiprah Beliau, kini banyak anak muda yang termotivasi sehingga menginisiasi perjuangan perempuan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"490\" height=\"326\" src=\"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture2-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7226\" style=\"width:514px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture2-1.jpg 490w, https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture2-1-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 490px) 100vw, 490px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Dr. Hariati Sinaga, Dosen Program Studi Kajian Gender SPPB UI, yang kali ini menjadi moderator membuka sesi diskusi dan menyampaikan pengantar singkat mengenai konteks kegiatan. Ia menekankan relevansi isu lingkungan dan krisis iklim yang semakin berkelindan dengan persoalan sosial dan gender. Karena itu, ia merasa kuliah sesi kali ini penting untuk dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai akademisi di bidang geografi manusia yang telah lebih dari tiga dekade meneliti isu tata kelola lingkungan, penghidupan, dan keadilan sosial di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Prof. Rebecca memperkenalkan kerangka <em>Feminist Political Ecology <\/em>(FPE) sebagai sebuah \u201cruang pertemuan\u201d antara riset akademik, pengalaman hidup, dan aksi sosial. Menurutnya, FPE bukan sekadar teori tunggal, melainkan praktik yang menghubungkan berbagai pendekatan kritis untuk memahami relasi manusia dan lingkungan yang sarat akan ketimpangan kuasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Perempuan yang kerap disapa Becky ini juga menekankan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial, ekonomi, dan politik yang membentuknya. FPE berupaya menempatkan pertanyaan tentang kekuasaan, ketidaksetaraan, dan keadilan sebagai pusat analisis. Perspektif ini melihat bahwa relasi manusia dengan alam selalu dipengaruhi oleh faktor gender, kelas, ras, etnisitas, serta warisan sejarah dan budaya tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Rebecca juga menguraikan bahwa akar FPE sangat beragam, mulai dari studi agraria kritis di negara-negara Global Selatan, gerakan keadilan lingkungan di kawasan urban, hingga perjuangan hak masyarakat adat dan gerakan anti-kolonial. Keragaman ini membuat FPE tidak memiliki satu definisi tunggal, melainkan berkembang sebagai pendekatan yang lentur dan kontekstual.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu ciri utama FPE adalah komitmen pada nilai-nilai feminis dan etika kepedulian (<em>ethics of care<\/em>), baik dalam penelitian maupun tindakan sosial. FPE mengakui keterhubungan seluruh makhluk hidup serta pentingnya menjaga kondisi bumi yang memungkinkan kehidupan berkelanjutan. Pendekatan ini juga menantang praktik pengetahuan yang dominan dan otoritatif, serta menekankan pentingnya keadilan sosial dan lingkungan bagi kelompok-kelompok yang termarginalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Rebecca kemudian menyoroti pentingnya <em>situated knowledge<\/em>, yaitu kesadaran bahwa cara manusia memahami dunia sangat dipengaruhi oleh posisi sosial, pengalaman hidup, dan konteks tempatnya berada. Ia mengatakan, \u201c<em>We need to ask: whose voices and lived experiences inform our understanding of the world?<\/em> [terjemahan, Kita perlu bertanya: suara dan pengalaman hidup siapa yang membentuk pemahaman kita tentang dunia?]\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam FPE, pertanyaan penelitian, metode, hingga interpretasi hasil tidak pernah netral, melainkan selalu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara dan pengalaman siapa yang dianggap penting. Karena itu, FPE mendorong riset yang kolaboratif dan menghargai pengetahuan sehari-hari komunitas yang kerap diabaikan oleh pendekatan ilmiah arus utama.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai ilustrasi, Prof. Rebecca membagikan kisah Magdalena Pandan, seorang perempuan Dayak di Kalimantan Barat yang kehidupannya berubah akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar. Melalui kisah tersebut, ia menunjukkan bagaimana FPE membantu membaca dampak lingkungan dan sosial secara lebih menyeluruh. Tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kesehatan tubuh, peran domestik, akses terhadap air bersih, serta relasi perawatan dan pengasuhan dalam keluarga. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana patriarki, kapitalisme, dan warisan kolonial berkelindan dalam membentuk pengalaman hidup perempuan di tingkat lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Rebecca juga menyoroti konsep reproduksi sosial sebagai ruang dan relasi yang memungkinkan kehidupan sehari-hari terus berjalan, seperti kerja domestik, pengasuhan anak, dan perawatan lingkungan. Menurutnya, transformasi lingkungan akibat investasi ekstraktif sering kali mengabaikan dimensi ini, padahal justru di situlah dampak paling nyata dirasakan oleh perempuan dan komunitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Di bagian akhir, Prof. Rebecca menekankan pentingnya membangun \u201ckisah-kisah penuh harapan\u201d sebagai alternatif dari penelitian yang hanya berfokus pada kerusakan. Ia mengajak akademisi dan aktivis untuk menyoroti praktik-praktik komunitas yang bertahan, beradaptasi, dan menciptakan bentuk ekonomi serta relasi sosial yang lebih adil. Karena FPE dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dunia akademik, kebijakan publik, dan gerakan masyarakat sipil melalui kolaborasi yang berlandaskan kepedulian, refleksi diri, dan keterbukaan terhadap berbagai suara yang selama ini terpinggirkan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"413\" height=\"275\" src=\"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture1-5.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7225\" style=\"width:463px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture1-5.jpg 413w, https:\/\/gssd.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/72\/2026\/02\/Picture1-5-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 413px) 100vw, 413px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Setelah itu, terdapat sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Salah satu peserta menanyakan bagaimana pendekatan FPE dapat diterapkan dalam penyusunan kebijakan publik yang kerap didominasi perspektif ekonomi makro. Menanggapi hal tersebut, Prof. Rebecca menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman komunitas sebagai dasar perumusan kebijakan. Ia menyebut bahwa data statistik perlu dilengkapi dengan cerita hidup masyarakat agar kebijakan tidak terputus dari realitas sosial dan ekologis di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan lain datang dari mahasiswa yang menyoroti peran generasi muda dalam mengembangkan FPE di Indonesia. Prof. Rebecca menjawab bahwa ruang akademik dan gerakan sosial perlu saling terhubung. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berhenti pada riset di kampus, tetapi juga membangun kolaborasi dengan komunitas dan organisasi masyarakat sipil agar pengetahuan yang dihasilkan memiliki dampak nyata.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesi pun ditutup dengan kesimpulan yang diutarakan Dr. Hariati. Bahwa, FPE hadir bukan hanya membantu kita untuk menemukan jawaban, melainkan juga mengkritisi sesuatu dengan bertanya dan menanyakan, membagun diskusi secara terus menerus. Karena komunitas feminis, perlu konsisten mengedepankan etika kepedulian dalam tiap geraknya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 4 Februari 2025 \u2013 Program Studi Kajian Gender (KG) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Saparinah Sadli\u00a0 Distinguished Lecture secara hybrid di Gedung IASTH Lantai 5 Kampus UI Salemba dan melalui zoom webinar. Prof. Rebecca Elmhirst, Guru Besar Geografi Manusia dari Universitas Brighton, Inggris menjadi pemateri pada kuliah ini dengan topik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":67,"featured_media":7227,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[40],"tags":[],"class_list":["post-7224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/67"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7224"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7229,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7224\/revisions\/7229"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7227"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}