{"id":7036,"date":"2026-01-07T19:15:59","date_gmt":"2026-01-07T12:15:59","guid":{"rendered":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/?p=7036"},"modified":"2026-01-09T19:19:23","modified_gmt":"2026-01-09T12:19:23","slug":"ketika-tambang-bertemu-piring-makan-pelajaran-penting-dari-pulau-kabaena-di-ujikan-di-sppb-ui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/2026\/01\/07\/ketika-tambang-bertemu-piring-makan-pelajaran-penting-dari-pulau-kabaena-di-ujikan-di-sppb-ui\/","title":{"rendered":"Ketika Tambang Bertemu Piring Makan: Pelajaran Penting dari Pulau Kabaena di Ujikan di SPPB UI"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, 6 Januari 2026 \u2014 Di tengah sorotan nasional terhadap hilirisasi nikel dan transisi energi, sebuah sidang doktor di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan \u2013 Universitas Indonesia (SPPB-UI), mengingatkan publik pada isu \u201cPangan\u201d yang jauh lebih mendasar. Nely Isdiarti Almatsier, mahasiswa doktor Program Studi Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia, mempertahankan disertasi berjudul Model Sistem Pangan Berkelanjutan Masyarakat Pulau Terpencil (Studi Masyarakat Sekitar PT X Desa Mapila-Wumbulasa, Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara), yang mengangkat realitas hidup warga Desa Mapila dan Wumbulasa di Pulau Kabaena.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian ini membongkar paradoks pembangunan. Di satu sisi, Kabaena dikenal sebagai wilayah kaya nikel dengan aktivitas industri ekstraktif yang kian intensif. Di sisi lain, masyarakat lokal justru menghadapi kerentanan pangan yang serius. Sebagian besar kebutuhan pangan mereka masih bergantung pada pasokan dari luar pulau, dengan biaya logistik tinggi dan risiko pasokan yang tidak stabil.<\/p>\n\n\n\n<p>Temuan riset menunjukkan fakta mencolok: sekitar 78 persen pendapatan rumah tangga dihabiskan hanya untuk membeli pangan. Angka ini menjadi penanda kuat rendahnya tingkat kesejahteraan. Ketergantungan pada beras pun sangat tinggi\u2014mencapai lebih dari 90 persen\u2014meskipun ketersediaannya terbatas dan tidak sebanding dengan kebutuhan. Dalam kondisi geografis yang terisolasi, situasi ini membuat masyarakat sangat rentan terhadap gangguan cuaca, distribusi, dan fluktuasi harga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan pendekatan partisipatif dan sistemik\u2014menggabungkan PRA, DPSIR, Logical Framework Analysis, serta pemodelan system dynamics\u2014Nely menempatkan kebijakan sebagai faktor pendorong paling dominan dalam sistem pangan pulau terpencil. Lemahnya intervensi negara dinilai berkontribusi pada stagnasi produksi pangan lokal, minimnya diversifikasi, serta rendahnya investasi infrastruktur pertanian.<\/p>\n\n\n\n<p>Tekanan lingkungan juga menjadi sorotan penting. Keterbatasan lahan dan sumber pangan lokal mendorong ketergantungan struktural pada pangan dari luar pulau. Ironisnya, di tengah dominasi sektor tambang, sektor pangan justru terpinggirkan. Penelitian ini mencatat bahwa perhatian dan tenaga kerja masyarakat banyak terserap ke aktivitas pertambangan, sementara pertanian dan perikanan lokal tidak berkembang optimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Sidang Promosi Doktor ini di pandu oleh Ketua Sidang Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., dengan Promotor Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si, Ko-Promotor 1 Dr. Evi Frimawaty, S.Pt., M.Si, Ko-Promotor 2 Dr. Drs. Suyud Warno Utomo, M. Si beserta dewan penguji Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si., IPU ASEAN Eng., Dr. H. Muh. Rasman Manafi, S.P., M.Si., Prof. Dr. Ir. Dwi Nowo Martono, M.Si., Dr. Sri Setiawati Tumuyu dan Dr. Fatmah SKM., M.S.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun disertasi ini tidak berhenti pada kritik. Model sistem pangan berkelanjutan yang ditawarkan menunjukkan jalan keluar yang realistis. Kombinasi perluasan lahan pertanian lokal, peningkatan produktivitas beras setempat, serta kebijakan pemerintah yang konsisten diproyeksikan mampu menurunkan ketergantungan pangan dari luar pulau secara signifikan hingga tahun 2035.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran perusahaan juga menjadi bagian penting dari solusi. Aktivitas industri, termasuk PT X yang beroperasi di Kabaena, dinilai memiliki peluang strategis melalui program corporate social responsibility yang terintegrasi dengan penguatan pangan lokal\u2014mulai dari pemanfaatan residu tambang sebagai media tanam, hingga dukungan infrastruktur dan teknologi pertanian ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Sekretaris Program Studi Doktoral SPPB-UI, Muhammad Reza Rustam, Ph.D \u201cdisertasi ini menjadi pengingat keras bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari ekspor mineral atau pertumbuhan industri semata. Pembangunan yang abai terhadap pangan berisiko meninggalkan masyarakat dalam kerentanan kronis. Dari Kabaena, pesan itu bergema jelas: kedaulatan pangan harus menjadi fondasi, bukan sekadar pelengkap, dalam agenda pembangunan nasional\u201d. Ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 6 Januari 2026 \u2014 Di tengah sorotan nasional terhadap hilirisasi nikel dan transisi energi, sebuah sidang doktor di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan \u2013 Universitas Indonesia (SPPB-UI), mengingatkan publik pada isu \u201cPangan\u201d yang jauh lebih mendasar. Nely Isdiarti Almatsier, mahasiswa doktor Program Studi Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia, mempertahankan disertasi berjudul Model Sistem Pangan Berkelanjutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":67,"featured_media":7037,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[40],"tags":[],"class_list":["post-7036","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7036","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/67"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7036"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7036\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7039,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7036\/revisions\/7039"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7037"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7036"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7036"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gssd.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7036"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}