Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan - Universitas Indonesia

Disrupsi Kota di Tengah Konflik Geopolitik Global

Jakarta, 16 Maret 2026 – Konflik dan perang terbuka saat ini selalu menyasar kota sebagai target penting. Kota telah menjadi arena utama dalam konflik geopolitik abad ini mengingat banyaknya sasaran strategis yang terkonsentrasi di perkotaan sebagai pusat politik, ekonomi, sosial, dan tentunya pusat populasi yang dapat memaksimalkan dampak psikologis konflik. Hal ini sudah diprediksi oleh Stephen Graham dalam bukunya berjudul Cities Under Siege: The New Military Urbanism, yang menjelaskan tesis penting tentang semakin terpusat konflik modern pada kota sehingga menempatkannya pada posisi paling rentan.

Situasi tersebut sangat relevan saat ini ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memperlihatkan fenomena geopolitik global yang dapat membentuk masa depan kota. Konflik kedua negara yang tidak kunjung membaik sejak Revolusi Iran 1979 bukan hanya persoalan diplomasi dan militer. Sanksi ekonomi, tekanan politik, serta ketidakpastian global yang berkepanjangan turut memengaruhi kehidupan kota-kota Iran, terutama Teheran yang terasa di ruang kota: inflasi meningkat, daya beli masyarakat melemah, dan pembangunan infrastruktur melambat. Kota menjadi ruang yang menanggung konsekuensi paling nyata dari konflik geopolitik yang sebenarnya berlangsung di tingkat negara.

Kerentanan kota global

Walau bukan fenomena yang baru, kerentanan kota akibat konflik semakin tinggi saat ini sejalan dengan semakin terkoneksinya jaringan dan infrastruktur yang kompleks di perkotaan: energi, transportasi, komunikasi, dan logistik global, hal yang juga disampaikan oleh Graham dalam bukunya yang lain, Disrupted Cities: When Infrastructure Fails. Rantai jaringan ini mengamini rentannya kota masa kini terhadap dinamika geopolitik global karena gangguan terhadap salah satu sistem ini dapat memicu efek domino terhadap kehidupan urban.

Dalam situasi konflik atau sanksi ekonomi, kerentanan tersebut dapat dilihat pada skenario ketergantungan energi: ketika pasokan energi terganggu, biaya logistik meningkat, dan investasi infrastruktur menurun. Akibatnya, berbagai masalah perkotaan, seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial, akan menjadi semakin tajam.

Graham menyebut fenomena ini sebagai bentuk military urbanism, yakni kondisi ketika kota semakin dipandang dalam logika keamanan dan konflik. Infrastruktur perkotaan tidak lagi hanya dilihat sebagai fasilitas publik, tetapi juga sebagai obyek strategis yang rentan terhadap konflik geopolitik.

Pelajaran unik dari Perang Dingin

Konflik Iran-Amerika sebenarnya bukan contoh pertama yang menarasikan arah perkembangan kota saat konflik global berlangsung. Pasca-Perang Dunia II, ketika Amerika dan Uni Soviet memasuki masa Perang Dingin, dampak ketegangan keduanya turut memasuki arena perencanaan kota yang menunjukkan bagaimana konflik global mendorong strategi perencanaan kota berbasis keamanan.

Pada masa itu, ancaman perang nuklir membuat Amerika menyadari bahwa kota besarnya sangat rentan terhadap serangan nuklir. Sebagai respons, pemerintah saat itu mengenalkan strategi perencanaan yang dikenal sebagai defensive dispersal, yaitu memecah pusat-pusat kota, industri, dan kepadatan penduduk agar terdispersi ke wilayah-wilayah pinggiran. Tujuan strategi ini adalah untuk memitigasi dampak yang dapat melumpuhkan kota-kota di Amerika ketika terjadi serangan.

Strategi ini kemudian mendorong berkembangnya kota-kota satelit di pinggiran metropolitan, kawasan industri yang tersebar, pembangunan jaringan jalan raya antarwilayah, dan suburbanisasi skala besar. Era ini ditandai dengan pembangunan masif permukiman di kawasan suburbia dan pembangunan jalan-jalan tol skala besar di Amerika Serikat.

Pada akhirnya, strategi ini berdampak pada munculnya isu-isu perkotaan modern, seperti urban sprawl dan fenomena forced car ownership. Dengan kata lain, situasi konflik geopolitik turut membentuk pola perkembangan kota-kota di Amerika yang dampaknya masih bisa dirasakan hingga kini. Kota tidak lagi dirancang semata-mata untuk efisiensi ekonomi, tetapi juga untuk ketahanan terhadap ancaman militer yang kemudian membentuk isu perkotaan yang semakin kompleks.

Geopolitik dan masa depan kota

Jika pada masa Perang Dingin kota dirancang untuk menghadapi ancaman nuklir, saat ini kota harus menghadapi bentuk ancaman baru: konflik geopolitik, sanksi ekonomi, gangguan energi, dan ketidakpastian global.

Konflik Iran-Amerika Serikat memperlihatkan bahwa kota modern dapat menjadi ruang yang paling terdampak oleh konflik global meskipun konflik tersebut terjadi di tingkat negara. Ketika ekonomi nasional tertekan oleh sanksi dan ketegangan geopolitik, kota menjadi tempat yang paling berdampak akibat terkonsentrasinya penduduk dan sumber-sumber strategis di wilayah perkotaan.

Bagi Indonesia, pelajaran ini menjadi penting mengingat tingkat pembangunan yang terkonsentrasi di segelintir kota utama di Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga energi dunia yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas ekonomi perkotaan. Kota yang sangat bergantung pada energi (impor) dan jaringan perdagangan global menjadi semakin rentan terhadap guncangan eksternal.

Oleh karena itu, perencanaan kota tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik. Kota perlu membangun ketahanan terhadap krisis global melalui diversifikasi energi, penguatan ekonomi lokal, dan perlindungan terhadap infrastruktur kritis. Strategi perencanaan berbasis keamanan sewajarnya terintegrasi dengan memperhatikan dampaknya di masa depan agar tidak memunculkan isu perkotaan yang baru.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kota tidak lagi sekadar simbol kemajuan. Ia juga menjadi ruang yang paling sensitif terhadap guncangan geopolitik. Konflik yang menyasar perkotaan saat ini, seperti perseteruan antara Iran–Amerika, mengingatkan kita pada satu kenyataan penting bahwa ketika negara bertikai, kota akan menjadi arena pertarungan yang paling merasakan dampaknya.

Source: https://www.kompas.id/artikel/disrupsi-kota-di-tengah-konflik-geopolitik-global