Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan - Universitas Indonesia

Prof. Yon Machmudi: Blokade Selat Hormuz Berpotensi Picu Krisis Energi Global

Jakarta, 11 Maret 2026 – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menunjukkan eskalasi serius dua pekan setelah serangan militer yang memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Situasi yang awalnya didominasi konfrontasi militer kini berkembang menjadi ancaman terhadap stabilitas energi global, terutama setelah Iran mengisyaratkan kemungkinan blokade Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.

Pakar sejarah dan geopolitik dari dan juga Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI), Prof. Yon Machmudi, S.S., Ph.D, menilai bahwa konflik ini telah berubah dari sekadar perang militer menjadi konflik strategis yang dapat berdampak langsung pada ekonomi global.

Menurut Prof. Yon, langkah Iran memainkan isu Selat Hormuz merupakan strategi geopolitik yang sangat signifikan karena jalur tersebut dilalui oleh sebagian besar distribusi minyak dari kawasan Teluk ke pasar dunia.

“Jika Selat Hormuz benar-benar diblokade atau aksesnya dibatasi, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh ekonomi global. Banyak negara bergantung pada jalur ini untuk pasokan energi mereka,” ujar Prof. Yon.

Dalam perkembangan terbaru, Iran juga disebut melakukan manuver diplomatik yang tidak biasa dengan menawarkan akses pelayaran bagi negara-negara tertentu yang mengambil sikap politik tertentu dalam konflik tersebut. Menurut Prof. Yon, langkah ini merupakan bentuk tekanan politik sekaligus strategi untuk memperluas dukungan internasional.

Di sisi lain, respons Amerika Serikat juga menjadi sorotan. Prof. Yon menilai bahwa situasi yang berkembang menunjukkan konflik ini tidak berjalan sesuai dengan skenario awal Washington.

“Amerika Serikat kemungkinan memperkirakan Iran akan melemah dalam waktu singkat. Namun kenyataannya, perlawanan Iran justru semakin kuat, termasuk setelah munculnya kepemimpinan baru yang menunjukkan sikap lebih tegas terhadap tekanan eksternal,” jelasnya.

Ia juga mencatat bahwa beberapa negara Eropa menunjukkan kehati-hatian dalam merespons konflik tersebut. Beberapa negara dilaporkan enggan terlibat lebih jauh dalam operasi militer yang berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, dinamika geopolitik juga membuka peluang bagi negara lain untuk memperkuat pengaruhnya. Prof. Yon melihat bahwa ketegangan di kawasan Teluk dapat mendorong negara-negara tertentu untuk mencari sumber energi alternatif serta memperkuat hubungan dengan kekuatan global lainnya.

“Ketika distribusi energi dari Timur Tengah terganggu, negara-negara di dunia akan mencari sumber alternatif. Situasi seperti ini dapat mengubah peta geopolitik energi global,” katanya.

Bagi Indonesia, eskalasi konflik tersebut juga berpotensi memberikan dampak ekonomi. Gangguan pasokan energi global dapat memicu kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya berpengaruh terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi domestik.

Karena itu, Prof. Yon menekankan pentingnya upaya diplomasi internasional untuk meredakan konflik dan mencegah dampak yang lebih luas bagi masyarakat global.

“Stabilitas kawasan Timur Tengah sangat penting bagi ekonomi dunia. Oleh karena itu, komunitas internasional perlu mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi agar tidak berkembang menjadi krisis global yang lebih besar,” pungkasnya.