Jakarta, 4 Desember 2025 – Ruang sidang Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI), pagi itu, dipenuhi suasana tegang namun penuh harapan. Aprison Mandela, Mahasiswa program Doktor Kajian Stratejik dan Global, yang telah hampir dua tahun menelusuri seluk-beluk gerakan pendukung Islamic State (IS) di Indonesia, akhirnya mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan dewan penguji. Dengan judul disertasi “Strategi Deteksi dan Cegah Dini: Ketahanan Gerakan Pendukung Islamic State di Indonesia”, ia menghadirkan temuan yang bukan hanya akademis, tetapi memiliki implikasi strategis bagi masa depan keamanan nasional. Penelitian yang disusun berdasarkan interaksi dengan 33 informan pendukung IS serta berbagai pemangku kepentingan intelijen dan kontra-terorisme ini berhasil membuka lapisan-lapisan terdalam tentang bagaimana simpatisan IS mampu bertahan meski jaringan globalnya terus melemah. Hasilnya mengejutkan sekaligus menggugah: terdapat sembilan faktor dominan dan empat faktor pendukung yang menjadi motor ketahanan gerakan tersebut. Rekrutmen yang terstruktur, pembinaan yang berkelanjutan, pengamanan jaringan yang rapi, propaganda ideologis yang agresif, pemanfaatan media sosial yang adaptif, hingga kondisi sosial-politik yang tidak stabil—semuanya bekerja seperti roda mekanisme yang saling menguatkan. Di hadapan para penguji, Aprison menyampaikan bahwa problem utama bukan hanya pada pelaku aksi teror, tetapi justru pada ekosistem yang mempertahankan keberadaan pendukung IS. “Selama faktor-faktor ini tidak disentuh secara sistematis, kita hanya memadamkan api, bukan mencegah sumber apinya,” ujarnya dalam sesi pemaparan. Peran intelijen menjadi sorotan penting dalam penelitiannya. Aprison menemukan bahwa berbagai lembaga sebenarnya telah menjalankan fungsi deteksi dan cegah dini, namun koordinasi lintas-instansi masih sering terhambat oleh sekat birokrasi dan kompartementasi informasi. BNPT disebut memiliki posisi strategis untuk memperkuat orkestrasi antarinstansi agar proses mulai dari penyelidikan, pencegahan, hingga pembebasan dapat berjalan lebih adaptif dan efisien. Temuan lain yang menjadi nilai kebaruan adalah usulan strategi Personal Counter Terrorism (PCT). Pendekatan ini memperluas fokus intervensi tak hanya pada potensi aksi, tetapi juga pada akar-akar ketahanan gerakan, terutama pemanfaatan teknologi serta dukungan sumber daya. Pendekatan PCT menekankan perlunya kombinasi soft approach dan hard approach yang disesuaikan dengan karakteristik individu—mulai dari simpatisan pasif hingga mereka yang berpotensi menjadi pelaku. Dewan penguji yang terdiri dari para ahli keamanan, intelijen, hukum, dan studi politik—dipimpin oleh Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T.—memberikan perhatian besar pada kebaruan penelitian ini. Promotor utama, Dr. Arthur Josias Simon Runturambi, menilai disertasi Aprison sebagai kontribusi penting dalam penguatan strategi kontra-terorisme Indonesia. Sementara itu, para penguji lain seperti Prof. Yon Machmudi dan Dr. Stanislaus Riyanta menyoroti pentingnya integrasi rekomendasi penelitian ini dalam kebijakan nasional yang lebih responsif terhadap ancaman ekstremisme modern. Di akhir sidang, Aprison Mandela bukan hanya dinyatakan lulus sebagai doktor. Ia membawa lebih dari sekadar gelar: ia membawa gagasan yang dapat mempengaruhi arah baru dalam strategi deteksi dan cegah dini terorisme di Indonesia. Dalam konteks meningkatnya dinamika radikalisme global, karya ini hadir sebagai peringatan, panduan, sekaligus pijakan perubahan. Bagi publik, penelitian ini mengingatkan bahwa ancaman terorisme tidak lagi kasat mata, tetapi terus hidup dalam ruang-ruang digital, sosial, dan ideologis. Bagi...Read More