Jakarta, 7 Maret 2026 – Kehadiran pesawat pengebom strategis B-52 Stratofortress milik Amerika Serikat di Inggris menandai babak paling berbahaya dalam eskalasi di Timur Tengah. Di atas kertas, “monster langit” ini mampu meratakan bunker bawah tanah terdalam Iran. Namun, di balik deru mesin pengebom tersebut, tersembunyi kenyataan pahit: AS sedang terjebak dalam strategi yang ambigu dan ketidakpastian militer yang menghantui.
Dr. Mulawarman Hannase, Lc., MA.Hum., Ketua Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) mengungkapkan bahwa manuver militer Donald Trump saat ini menghadapi kritik tajam, bahkan dari publik Amerika sendiri. Target sasaran yang terus berubah—mulai dari isu nuklir hingga perubahan rezim—membuat strategi AS terlihat kehilangan arah.

“Trump kerap melontarkan narasi propagandis bahwa semua target sudah tercapai, namun fakta di lapangan berbicara lain. Pengerahan senjata berat ini justru dilihat sebagai cara untuk menutupi kegagalan diplomasi sekaligus strategi untuk perlahan ‘menarik diri’ dari perang yang kian menyusahkan kedua belah pihak,” ujar Mulawarman.
Eskalasi kini telah bermutasi menjadi perang energi dan ekonomi yang mencekam. Iran tidak lagi hanya bertahan tetapi mereka menyerang nadi ekonomi dunia. Iran blokade Selat Hormuz dan menetapkan syarat ekstrem—duta besar harus dipulangkan jika ingin melewati jalur yang memasok 20% minyak dunia ini. Iran mengancam akan menyasar fasilitas perbankan di negara-negara Teluk yang terafiliasi dengan AS. AS mengalami kerugian fantastis melalui penutupan bandara dan gangguan logistik dilaporkan menelan kerugian hingga 1 juta dolar AS per jam.
Negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Kuwait kini berada di persimpangan jalan yang dilematis. Di satu sisi, mereka terikat koneksi kuat dengan AS; di sisi lain, muncul keraguan besar apakah AS dan Israel adalah sekutu yang bisa dipercaya 100%.
Lembaga internasional seperti Liga Arab dan GCC tampak lumpuh saat infrastruktur militer dan kilang minyak mereka mulai terancam oleh serangan Iran. Iran secara cerdik memainkan psikologi kawasan dengan pesan sederhana: “Jangan terlalu percaya pada Amerika.”
Satu hal yang membuat militer sekuat AS dan Israel ragu untuk melakukan agresi total adalah ketidaktahuan mereka akan kekuatan asli Iran. Selama 40 tahun di bawah embargo, Iran menjadi negara yang sangat tertutup secara informasi militer.
“Dunia tahu Amerika sangat kuat sebagai superpower. Tapi Iran? Mereka adalah teka-teki. Mereka menutup rapat jumlah rudal mereka,” tambah Mulawarman.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran baru-baru ini semakin memanaskan suasana: “Rudal kami bisa bertahan untuk perang setiap hari selama 20 tahun.”
Eskalasi ini tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Iran menuntut harga yang setimpal atas kematian pimpinannya: “Pemimpin dibayar dengan pemimpin.” Selama target besar ini belum tercapai atau AS tidak mengakui kekalahan secara diplomatis, “paket hemat” drone dan ancaman blokade energi akan terus menghantui ekonomi global.

